Limbah Rumah Tangga Jadi Berkah: DLH Grobogan dan UDINUS Dorong Integrated Smart Farming di Desa Tinanding




GODONG — Langkah konkret dalam mewujudkan kemandirian pangan sekaligus pengelolaan sampah berkelanjutan terus dipacu di Kabupaten Grobogan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Grobogan berkolaborasi dengan akademisi Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS), Pemerintah Desa Tinanding, serta unsur investor menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga sebagai Embrio Integrated Farming Skala Rumah Tangga di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Selasa (15/9/2026).

FGD yang berlangsung di Balai Desa Tinanding tersebut dihadiri langsung oleh Kepala DLH Kabupaten Grobogan, Heru Dwi Cahyono, S.STP., M.Si.; Dosen UDINUS, Prof. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T.; Kasi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Godong, Radi Hari Kuswanto; Kepala Desa Tinanding, Nur Hasan, beserta jajaran perangkat desa, kader PKK, serta perwakilan investor lokal Chand Hajar Aswad.

Dalam sambutan pembukanya, Kepala Desa Tinanding, Nur Hasan, menggarisbawahi pentingnya pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk untuk budidaya tanaman pangan dan hortikultura seperti cabai, tomat, dan kangkung. Ke depan, hasil panen warga ditargetkan dapat diakomodasi dan dipasarkan melalui BUMDes guna menggerakkan roda perekonomian desa. Senada dengan hal tersebut, Kasi Kesra Kecamatan Godong, Radi Hari Kuswanto, menegaskan perlunya sentuhan inovasi dan pengetahuan agar pemanfaatan limbah di tingkat masyarakat menjadi lebih terarah dan memberikan nilai tambah.

Sampah Bukan Beban, Melainkan Sumber Daya

Mengangkat materi bertajuk “Dari Sampah Menjadi Sumber Daya: Embrio Integrated Farming untuk Kemandirian Pangan dan Lingkungan”, Kepala DLH Kabupaten Grobogan, Heru Dwi Cahyono, S.STP., M.Si., menekankan perubahan paradigma dalam memandang sampah.

"Sampah jangan lagi dilihat sebagai beban yang harus dibuang, melainkan sumber daya berharga jika dikelola dengan benar. Di Kabupaten Grobogan, timbulan sampah mencapai sekitar 858 ton per hari pada tahun 2026, di mana 42,88 persen di antaranya merupakan sampah sisa makanan. Ini adalah potensi besar untuk kita olah kembali," ujar Heru.

Merujuk pada PP Nomor 81 Tahun 2012, Heru mengingatkan bahwa pemilahan sampah sejak dari sumbernya (rumah tangga) merupakan kunci utama. Untuk tahap awal, warga Desa Tinanding diimbau menerapkan metode sederhana seperti pembuatan komposter rumah tangga menggunakan jugangan atau sumur buis beton guna mengubah limbah organik menjadi kompos.

Inovasi Smart Farming dan Optimalisasi Lahan Sempit

Sementara itu, Dosen UDINUS, Prof. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T., memperkenalkan konsep integrated smart farming yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan limbah berbasis teknologi modern.

Prof. Rindra memaparkan sejumlah inovasi aplikatif, antara lain sistem penyiraman tanaman otomatis memanfaatkan air kolam ikan, pakan ikan otomatis bertenaga surya, pengolahan kotoran hewan (kohe) menjadi Pupuk Organik Cair (POC), hingga budidaya maggot memanfaatkan sampah organik. Bagi warga dengan lahan terbatas, diterapkan solusi praktis seperti teknik vertikultur, budidaya ikan dalam ember (budikdamber), serta pemanfaatan media polybag.

Sesi diskusi interaktif yang menutup rangkaian FGD mempertegas komitmen lintas sektor antara pemerintah daerah, akademisi, pemerintah desa, warga, dan investor. Sinergi ini diharapkan menjadi batu pijakan awal lahirnya percontohan Desa Mandiri Pangan dan Berbudaya Lingkungan di Kabupaten Grobogan.


Dapatkan Data yang Anda Cari